aku akan selalu melangkahkan kaki mencari apapun yang ada pada dunia ini aku tak punya tujuan pasti aku hanya beserah pada ilahi
Sunday, October 31, 2010
---Kunci Menuju Kesuksesan---
Setiap pesawat luar angkasa memiliki system pengendali. Pesawat itu tidak hanya diisi berton-ton bahan bakar yang mudah terbakar, diarahkan ke arah yang tepat, dinyalakan mesinnya, dan dibiarkan meluncur dengan sangat cepat. Ada sebuah system yang dibangun untuk mengendalikan pesawat selama penerbangan, menjaga agar daya bakar hebat yang menggerakkan pesawat tidak merobek pesawat itu menjadi berkeping-keping.
Visi kita – untuk membuatnya sedinamis roket – membutuhkan system pengendali juga.
Bobbi DePorter, penggagas metode Quantum Learning, memiliki 8 Katalis Kunci sebagai system pengendali untuk mencapai kesuksesan yang kita harapkan.
Mengapa disebut Katalis Kunci? Dalam reaksi kimia dan fisika, katalis mendorong perubahan yang diinginkan. Dalam reaksi mental, katalis berfungsi seperti anak-anak kunci di dalam kunci. Kunci dirancang agar kita tidak bisa masuk. Ketika kita terkunci di luar konsep-konsep ini, kita tidak bisa masuk dalam Quantum Success. Kita tidak bisa sukses tanpa kunci-kunci ini. Untuk mendapatkan reaksi katalis ajaib yang dihasilkan oleh konsep-konsep ini, kita harus merenggut anak kunci dan masuk ke dalamnya.
Bobbi pertama kali mengembangkan 8 katalis kunci untuk SuperCamp. Sebelumnya, konsep ini dikenal sebagai 8 Keys of Excellence selama dua puluh delapan tahun yang lalu. Kedelepan Katalis Kunci ini adalah:
1. Integrity
2. Failure Leads to Success
3. Speak with Good Purpose
4. This is It!
5. Commitment
6. Ownership
7. Flexibility
8. Balance
Mengapa kita tidak bisa sukses tanpa Katalis Kunci ini? Coba bayangkan seperti apa visi kita tanpa diarahkan katalis-katalis ini? Kita ingin mencapai mimpi-mimpi kita. Sangat menginginkannya tercapai. Namun, apakah kita begitu menginginkannya sehingga memanfaatkan dan menyakiti orang lain untuk mencapainya? Bukankah tujuan mengejar visi kita adalah untuk melakukan sesuatu yang baik di dunia ini?
Jika kita meninggalkan kekecewaan, ketidakpercayaan, dan rasa sakit, untuk apa mencapai tujuan kita? Visi tanpa prinsip-prinsip akan menjadi ambisi yang keji. Ambisi menjadi sangat terobsebsi dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak peduli siapa yang dilindas untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Katalis Kunci menjunjung hubungan. Konsep-konsep ini mengatur cara berinteraksi dengan hidup, diri kita sendiri dan orang lain.
---Pendidikan Seks pada Anak---
Dewasa ini sudah banyak orangtua yang menyadari bahwa pendidikan seks untuk anak adalah penting diberikan kepada anak sejak usia dini. Tetapi banyak orangtua juga merasa bingung bagaimana caranya menanamkan pendidikan seks itu kepada anak mereka.
Cara penyampaian lebih penting agar apa yang kita harapkan menemui sasaran, dan layak untuk didengar buah hati kita.
Ingin tahu bagaimana caranya? Ikuti tips berikut ini:
1. Ubah paradigma bahwa seks bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan. Biasakan bicara terbuka di antara keluarga, termasuk bicara seks.
2. Jelaskan secara ilmiah dan alamiah masalah seks kepada anak-anak. Sehingga mereka tidak malu, apalagi takut untuk bertanya.
3. Ajarkan persoalan seks dari segi moral, norma, ilmiah, dan agama agar anak dapat memahami seks dengan benar, dan menurut konteks pembicaraan yang tepat.
4. Pakai istilah atau sebutan yang jelas dan tepat, Misal menyebut organ genital wanita dengan sebutan ‘vagina’ bukan ‘dompet’ atau ‘apem’.
5. Sesuaikan penjelasan mengenai seks dengan usia dan tingkat pemahaman anak
6. Batasi penjelasan/jawaban hanya pada pertanyaan anak saja, tidak usah terlalu melebar terlalu jauh.
7. Mau mendengar dan peka terhadap pertanyaan-pertanyaan kritis anak, bahkan yang ‘nyerempet-nyerempet’, misalnya soal mimpi basah atau masturbasi. Katakan itu hal wajar dalam usia puber.
Semoga bermanfaat diterapkan kepada putra-putrinya ya
---Pribadi yang Sederhana---
Kesederhanaan hati dalam berperilaku mencerminkan “keindahan jiwa” yang mempesona bagi diri sendiri dan oranglain. Sebaliknya, kesombongan dan sikap selalu meninggikan diri lebih sering merusak interaksi dengan sesama. Bila ingin menjadi pribadi yang menyenangkan, belajarlah menjadi pribadi yang sederhana.
Kesuksesan sering kali bermula dari kesederhanaan langkah dan sikap. Oleh karena itu, apabila kita ingin menciptakan keberhasilan yang tidak melukai orang lain, milikilah jiwa yang sederhana. Kita tidak akan pernah merasa “lebih tinggi” dan “lebih hebat” dari orang lain apabila kita selalu merendah, mengedepankan kesederhanaan yang mengagumkan. Bagaimana kita membangun pribadi yang sederhana dan selalu memandang orang lain sebagai pribadi yang penting, sepenting diri kita dalam memaknai kesuksesan? Inilah cara yang dapat kita coba:
1. Lebih baik diam, namun selalu bertindak
Ya, daripada kita disibukkan dengan pembicaraan yang tidak perlu dan sepele, bahkan sering kali menyombongkan diri dalam selipan obrolan, lebih baik diam namun pikiran dan tindakan kita terfokus pada jalan kesuksesan dan tujuan hidup terbaik kita. Mungkin kita perlu mempelajari hal ini bila kita sudah terbiasa mengumbar obrolan atau percakapan ngalor-ngidul (kesana-kemari).
Apabila kita sudah berhasil untuk menjadi terbiasa mengendalikan setiap ucapan, dan berhasil meningkatkan tindakan kita untuk menciptakan jalan kesuksesan, tidak sulit bagi kita untuk membangun pribadi yang sederhana. Sering kali, kesederhanaan terlihat melalui pengendalian ucapan dan peningkatan kualitas tindakan. Semoga kita menjadi pribadi yang menyenangkan melalui cara ini.
2. Tunjukkan peran terbaik kita
Dalam berinteraksi dengan orang lain, kita tentu memiliki peran. Tunjukkan peran terbaik kita, dan tidak perlu menyombongkan diri bahwa kita sudah berperan lebih dari rekan kita. Jadilah pribadi yang sederhana, tanpa merasa “sok berjasa”. Tunjukkan bahwa peran kita sangat menentukan keberhasilan bersama, namun dengan cara yang elegan, tidak perlu meninggikan diri. Jadilah pribadi yang sederhana menurut peran itu, dan orang lain akan mengetahuinya melalui tindakan kita, bukan melalui “kampanye” yang bermaksud menonjolkan peran kita.
Peran terbaik akan bermanfaat bagi diri sendiri dan rekan kita apabila dilakukan dengan tulus, tanpa keinginan untuk disanjung-puji. Peran terbaik akan membawa keberhasilan apabila dilakukan dengan kesungguhan hati dan jauh dari niat “pamer” bahwa kita berkuasa. Jadilah pribadi yang sederhana seiring dengan peran terbaik kita. Dengan demikian, kehadiran kita menyenangkan bagi orang lain, terutama rekan yang telah menciptakan kesuksesan bersama kita.
3. Hilangkan rasa iri yang merusak
Rasa iri hanya bertujuan agar kita sama dengan orang lain sering kali merusak hati dan pikiran. Ingatlah, setiap orang memiliki keunikan, dengan kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Anda tidak dapat 100% sama dengan orang lain. Jika orang lain memperoleh rezeki atau keuntungan yang lebih banyak dari kita kemudian kita iri dan membencinya, hati dan pikiran kita akan teracuni. Sebaliknya, apabila rasa iri kita tunjukkan untuk “persaingan sehat”, bahwa kita juga mampu menciptakan keberhasilan seperti orang itu, maka kita akan terdorong untuk berbuat yang baik.
Lebih dari itu, apabila kita dapat menghilangkan rasa iri yang merusak hati dan pikiran, kita akan mudah membangun pribadi yang sederhana, menerima diri apa adanya, dan selalu berusaha melangkah menuju keberhasilan dalam hidup kita. Dengan bekal “rasa iri yang sehat”, kita juga akan dapat mendorong langkah sukses, tanpa disertai kebencian terhadapa orang lain apabila mereka terlebih dahulu memetik kesuksesan.
Sumber: Buku “Pribadi yang Menyenangkan”
Subscribe to:
Posts (Atom)



